TRAVEL UPDATE

11 Tradisi Unik Menjelang Lebaran

Menjelang lebaran, banyak sekali tradisi yang sudah dilakukan secara turun temurun sejak puluhan bahkan ratusan tahun yang lalu. Mulai dari yang bersifat suci dan spiritual hingga kenduri rakyat yang penuh suka cita.

Biasanya tradisi digelar sebagai tanda syukur atas segala berkah kebaikan yang telah dinikmati. Berikut adalah beberapa tradisi yang masih dilestarikan hingga saat ini.

 

11. Perang Topat

Source : merahputih.com

Perang topat merupakan tradisi tahunan yang dilakukan oleh umat Islam dan Hindu di Pura lingsar, Lombok, Nusa Tenggara Barat. Perang topat dilakukan sebagai simbol toleransi antar umat beragama, yakni Islam dan Hindu di Lombok.

Tidak jarang para peserta yang mengikuti perang topat memperebutkan ketupat yang telah dilempar. Mereka percaya bahwa ketupat tersebut bisa membawa kesuburan untuk tanaman dan membuat hasil panen bagus. Sejak ratusan tahun lalu tradisi ini dilakukan, dan hingga sekarang masih dilestarikan.

 

10. Ilo Sanggari

Foto : Kamera Budaya

Tradisi menyalakan lentera yang diletakkan mengelilingi rumah mereka, pada malam lebaran dilakukan oleh setiap keluarga di Dompu, Nusa Tenggara Barat, dengan harapan agar para leluhur dapat bergabung dan memberikan berkah kebaikan pada tahun berikutnya. Ilo Sanggari ini terbuat dari bambu dan dililit dengan minyak biji jarak.

 

9. Perlon Unggahan

Foto : Trenzing

Perlon unggahan adalah acara syukuran secara besar-besaran, oleh warga di Banyumas, yang diadakan seminggu menjelang ramadhan. Dalam kegiatan upacara ini ada keunikan tersendiri, yaitu seluruh peserta syukuran, mengenakan pakaian khusus yang dianggap sebagai busana anak cucu keturunan (trah) Ki Bonokeling. Di samping itu, upacara tersebut dikhususkan untuk menghormati arwah Ki Bonokeling.

Keunikan yang lain adalah bahwa setiap peserta diberi kesempatan untuk berdoa sendiri-sendiri secara berurutan dengan dipandu oleh petugas, serta setiap peserta membawa punjungan berupa hewan sebagai ungkapan terima kasih.

 

8. Malam Selikuran

Foto : Wisata Yogyakarta

Di Solo, tradisi malam selikuran yang mengusung seribu tumpeng merujuk pada malam lailatul qodar yang jatuh pada malam ganjil di bulan Ramadan. Seribu tumpeng dikirab dari Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat menuju Masjid Agung Solo bersama para abdi dalem yang membawa lampu ting. Dengan beriringan membawa  Joli kencana. Setiap prosesi tumpeng seribu selalu ada dua joli kencana dan satu ting berukuran besar, lengkap dengan logo Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

Tumpeng yang berisi nasi berwarna putih menandakan kesucian seperti manusia yang baru saja lahir, yakni penuh kebaikan. Kirab nasi tumpeng tersebut juga juga sebagai bentuk kepedulian manunggaling kawula gusti sekaligus untuk menjadi sarana hiburan yang disajikan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat  untuk masyarakat.

 

7. Bakar Binarundak

Foto : Tari Ronggeng

Masyarakat Bolang Mongondow, Sulawesi Utara, menandai puncak lebaran dengan membakar nasi jaha secara massal (nasi jaha, adalah beras ketan yang dimasak dengan santan, lalu dibungkus dengan daun pisang dan dimasukkan ke dalam bambu). Nasi jaha yang sudah matang lalu dinikmati bersama-sama dengan iringan rebana, serta doa-doa sebagai tanda syukur warga Bolang Mongondow. Tradisi ini juga menjadi ajang silahturahmi dan magnet kerinduan bagi warga yang merantau.

 

6. Ronjok Sayak

Foto : Bandung News

Api dipercaya menghubungkan manusia dengan leluhur. Hal ini yang melahirkan tradisi Ronjok Sayak atau Bakar Gunung Api. Tradisi ini sudah dilakukan suku Serawai di Bengkulu sejak ratusan tahun lalu. Tradisi ini dilakukan pada malam takbiran di depan rumah setiap warga. Batok kelapa disusun seperti sate yang lalu dibakar oleh warga beramai-ramai setelah sholat Isya.

 

5. Baku Pukul Sapu Lidi

Maluku-Tari-Sapu-Lidi
Foto : indonesiatravel.com

Mendengar kata baku pukul, membayangkannya saja, kita sudah ngeri. Namun tradisi unik baku pukul di Maluku Tengah ini, dilakukan untuk menyambut datangnya hari Lebaran dan dilakukan pada 7 Syawal (penanggalan Islam) justru di selenggarakan demi mempererat tali persaudaraan masyarakat di Desa Mamala dan Desa Morella, Maluku Tengah.

Tradisi pukul manyapu merupakan perayaan yang ditunggu-tunggu warga dan wisatawan setiap tahunnya. Anda dapat melihat proses pembuatan pohon enau menjadi sebuah lidi dan juga pengolahan minyak kelapa untuk pengobatan selepas tradisi ini. Selain itu, tradisi ini juga diramaikan dengan permainan rebana, karnaval budaya, dan pertunjukan tari lokal seperti tari putri, tari mahina, dan tari perang. Dikabarkan, desa Mamala dan desa Morella meraup untung dari kedatangan wisatawan baik lokal, regional maupun internasional terutama dari Belanda.

 

4. Meugang

Foto : Wanti NJ

Sehari sebelum lebaran, masyarakat Aceh melaksanakan tradisi Meugang. Mereka memotong hewan dan dagingnya dibagi-bagikan lalu disantap bersama keluarga dan berbagi dengan keluarga dan tetangga sekitar. Meugang memiliki nilai religius, sebab dilakukan pada hari-hari suci umat Islam. Masyarakat Aceh percaya, bahwa nafkah yang dicari selama 11 bulan wajib disyukuri dalam bentuk tradisi Meugang ini.

 

3. Ngejot

Foto : Dream

Meskipun mayoritas penduduknya memeluk agama Hindu, namun tradisi lebaran di Bali tak kalah serunya dengan daerah lain di Indonesia. Tradisi Ngejot sebenarnya dilaksanakan oleh umat Islam dan Hindu di Bali, sebagai simbol kerukunan antar umat beragama. Umat Islam melakukan tradisi Ngejot ini pada saat menjelang Hari Raya Idul Fitri, sedangkan umat Hindu melaksanakannya pada Hari Raya Kuningan, Nyepi dan Galungan.

Makanan yang diberi kepada tetangga adalah menu khas hari besar masing-masing yang dimasak pada saat itu dan tak lupa kue serta buah-buahan. Bisa dibayangkan jika hari besar keduanya bertemu di hari yang sama, seru kan!!

 

2. Tumbilotohe

Foto : Pesona Gorontalo

Masyarakat Gorontalo menyebutnya Tumbilotohe atau malam pasang lampu. Tradisi ini telah berlangsung sejak abad XV.  Pada masa itu lampu penerangan masih terbuat dari wamuta atau seludang yang dihaluskan dan diruncingkan, kemudian dibakar. Alat penerangan ini di sebut wango – wango. Tahun-tahun berikutnya, alat penerangan mulai menggunakan tohetutu atau damar yaitu semacam getah padat yang akan menyala cukup lama ketika dibakar.

Berkembang lagi dengan memakai lampu yang menggunakan sumbu dari kapas dan minyak kelapa, dengan menggunakan wadah seperti kima, sejenis kerang, dan pepaya yang dipotong dua, dan disebut padamala. Kini Tumbilotohe yang hanya ada di Gorontalo, semakin meriah dengan diadakannya Festival Tumbilotohe, yang berlangsung selama 3 malam berturut-turut menjelang Hari Raya Idul Fitri.

 

1. Meriam Karbit

Foto : Halo Borneo

Festival meriam karbit saat puasa hingga lebaran ini telah berlangsung puluhan tahun, berawal ketika raja pertama Pontianak Syarif Abdurrahman Alkadrie, memerintahkan pasukannya untuk mengusir hantu-hantu yang kerap mengganggu dengan menggunakan meriam. Dan yang luar biasa, meriam ini dibuat dari batang pohon lho.

Tradisi tersebut tidak pernah putus di masyarakat yang bermukim di pinggiran Sungai Kapuas, mereka melakukannya setiap hari sepanjang bulan puasa, hingga pada akhirnya Pemerintah setempat membuat peraturan, meriam karbit hanya boleh dibunyikan pada saat tiga hari sebelum lebaran dan tiga hari setelah lebaran.

Post Comment