Travel Update

Bromo, Saksi Bisu Kemegahan Sang Matahari Terbit

bintang.com

Jangan katakan Anda pernah ke Jawa Timur bila belum menapakkan kaki di gunung api yang indah ini. Gunung Bromo di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru memiliki keunikan dengan pasir laut seluas 5.250 hektar di ketinggian 2392 m dpl. Anda dapat berkuda dan mendaki Gunung Bromo melalui tangga dan melihat Matahari terbit. Lihatlah bagaimana pesona Matahari yang menawan saat terbit dan terbenamnya akan menjadi pengalaman pribadi yang mendalam saat Anda melihatnya secara langsung.

Menikmati hamparan lautan pasir luas, menyaksikan kemegahan Gunung Semeru yang menjulang menggapai langit, serta menatap indahnya Matahari beranjak keluar dari peraduannya atau sebaliknya menikmati temaram senja dari punggung bukit Bromo adalah pengalaman yang takan terlupakan saat menyambangi Bromo.

Disamping pemandangan alamnya memikat mata, Gunung Bromo menyimpan daya tarik yang tak kalah luar biasa. Keberadaan suku Tengger misalnya.

Suku ini hidup dan menetap di beberapa daerah sekitar komplek pegunungan Tengger. Mayoritas suku Tengger menganut agama Hindu. Namun kepercayaan sukuTengger  berbeda dengan Hindu Bali. Mayoritas Hindu Bali menganut kepercayaan Hindu Dharma, sedangkan Hindu Tengger menganut Hindu Mahayana.

Dikisahkan pada jaman dahulu ketika Islam masuk ke Nusantara, terjadi perselisihanantar kerajaan di Pulau Jawa. Majapahit yang merupakan penganut Hindu-Budha merasa terdesak kemudian berpencar melarikan diri, sebagian ke Bali, sebagian lagi ke arah Bromo dan Semeru.

Pasangan Roro Anteng dan Joko Seger adalah dua orang Majapahit  yang ikut lari ke Bromo. Mereka menjadi pemimpin di daerah tersebut dan menamakan dirinya Tengger yang merupakan gabungan dari nama  Roro Anteng da Joko Seger.

Sampai sekarang ada kepercayaan bahwa suku Tengger merupakan keturunan dari kedua penguasa Bromo tersebut.

Sama seperti suku-suku lain di Indonesia, kaum Tengger-pun memiliki ciri khas unik dalam berpakaian. Umumnya mereka mengenakan atasan lengan panjang dan celana dengan kain sarung yang selalu melekat di tubuh mereka. Sarung itu kerap dijadikan pengganti jaket untuk menghangatkan tubuh. Selain itu mereka mengenakan topi atau kupluk sebagai pelindung kepala dan telinga dari udara dingin.

Suku Tengger menggunakan bahasa Jawa kuno dengan dialek khas Tengger yang juga diyakini sebagai bahasa dan dialek asli Majapahit.

Mata pencaharian mereka umunya adalah bertani dan berternak. Lahan di sekitar gunung merupakan lahan subur dan sangat baik untuk ditanami sayuran.

Bagi suku Tengger, Gunung Bromo adalah gunung suci. Setahun sekali masyarakat Tengger mengadakan upacara Yadnya Kasada.

Upacara korban tengah malam dilaksanakan sebagai permohonan kepada Sang Hyang Widi agar masyarakat Tengger mendapatkan berkah dan diberi keselamatan. Dilaksanakan pada malam hari setiap bulan purnama sekitar tanggal 14 atau 15 bulan kasodo (kesepuluh) menurut penanggalan Jawa.

Acara diawali dengan pengukuhan sesepuh Tengger dan pementasan sendratari Roro Anteng Joko Seger. Upacara yang berlangsung di  Pura Luhur Poten yang berada di bawah kaki gunung Bromo utara tersebut biasanya berakhir sekitar pukul 04:00 pagi, kemudian masyarakat bersiap membawa ongkek/wadah berisi sesaji untuk dibawa ke kawah gunung Bromo.

Setelah tiba di puncak gunung Bromo, sesaji berisi buah-buahan hasil panen tersebut dilemparkan ke dalam kawah. Melempar sesaji merupakan simbol rasa terimakasih mereka terhadap Betoro Bromo (Brahma), sang penguasa gunung api. Cari hotel di sekitar Bromo

 

 

Berikan pendapatmu

Post Comment

error: Content is protected !!