TRAVEL UPDATE

Pemujaan Dang Hyang Astapaka

Pura Dang

Karangasem – Pura Tamansari di Desa Budakeling, Bebandem, Karangasem dipercaya warga setempat merupakan parahyangan atau tempat pemujaan Ida Dang Hyang Astapaka. Pura itu dipercaya juga sebagai pura dang kahyangan dan dibangun keponakan Dang Hyang Dwijendra atau Ida Pedanda Sakti Wau Rawuh.

Di pura ini kata panitia kehumasan karya Ida Made Giur Dipta, Sabtu (3/9) kemarin, di Karangasem, saat ini tengah berlangsung prosesi karya besar yakni Tawur Tabuh Gentuh yang sudah berlangsung 28 Agustus lalu. Sementara, puncak karya mamungkah dan ngenteg linggih pada Senin (12/9).

Prosesi karya ini sudah berlangsung sejak 20 Maret lalu. Sejak Ida Batara kaaturan tedun dan malinggih di panggungan pura setempat, terhitung Ida Batara kaaturan nyejer selama 53 hari, masineb 24 Oktober mendatang.

Selama karya, lanjut Giur Dipta, warga pangempon, pasemetonan dan warih Ida Batara diharapkan menyempatkan diri ngaturang ayah dan ngaturang bakti. Hal itu juga dalam rangka mendoakan alam semesta dan segala isinya agar selamat, demikian juga umat manusia sehat dan sejahtera.

Sesuai kepercayaan dan lontar yang ada, Ida Dang Hyang Astapaka merupakan putra Ida Dang Hyang Angsoka. Dang Hyang Angsoka tak lain saudara kandung Dang Hyang Dwijendra atau Ida Pedanda Sakti Wau Rauh.

Dipercaya, sebelum menetap di Desa Budakeling, Dang Hyang Astapaka setelah tiba di Bali dari Jawa sempat bermukim di Desa Ambengan, Gianyar atas perkenan raja Gelgel.

Kedatangannya ke Bali atas undangan raja terkait berlangsungnya karya Homa. Sementara, Dang Hyang Dwijendra sudah lebih dahulu ke Bali dan menjadi bagawanta Raja Gelgel Dalem Waturenggong.

Kawignan Dang Hyang Astapaka sempat diuji di paseban istana. Di mana di tengah areal paseban digali lubang dan ke dalamnya dimasukkan seekor angsa. Lubang ditutup rapat sehingga angsa tak kelihatan. Saat paseban berlangsung, di mana Dalem dihadap petinggi kerajaan, angsa itu bersuara.

Raja bertanya kepada Dang Hyang Astapaka, suara apa gerangan dari lubang itu. Dengan mantap Dang Hyang Astapa menjawab bahwa itu suara naga. Sontak mereka yang hadir di paseban menertawakannya. Namun tiba-tiba dari dalam lubang yang sebelumnya diisi seekor angsa menyembul ke luar seekor naga.

Kemunculan naga itu membuat ngeri orang di paseban. Terbukti kawignan Dang Hyang Astapaka, kerajaan lantas mendaulatnya menjadi bagawanta kerajaan menapak jejak Dang Hyang Dwijendra.

Suatu ketika karena alasan tertentu, Dang Hyang Astapaka kemudian berangkat ke arah timur Kerajaan Gelgel.

Pada suatu ketika beliau melihat cahaya terang benderang memancar dari bumi ke langit. Sumber cahaya itu dicari dan diketahui berada di Desa Budakeling kini. Dalam samadinya diketahui sumber cahaya itu merupakan tempat yang sangat baik untuk membangun pasraman.

Tempat sumber cahaya itu ditancapi tongkat dari dahan kayu tanjung. Pohon atau bunga tanjung itu kemudian tumbuh subur. Di sana dibangun pasraman tanjung sari dan kini menjadi Pura Taman Tanjung.

Pada saat hampir bersamaan juga dibangun tempat pemujaan Ida Dang Hyang Astapaka dan diberi nama Pura Tamansari.

Pura ini sudah dipugar sejak beberapa tahun lalu. Namun pembangunan belum tuntas.

Post Comment